Kamis, 12 April 2018

PEMANFAATAN EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN POHON PINUS



Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                         Medan,     April 2018
PEMANFAATAN EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
POHON PINUS (Pinus merkusii)
Dosen Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si
Oleh :
Luwicha Dian Mintari
161201022
Hut 4A






Hasil gambar untuk LOGO USU










PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018





KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan  kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah  memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada  penulis  sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun makalah ini berjudul “Pemanfaatan Ekonomi Sumber Daya Hutan Pohon Pinus”.
            Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si selaku dosen penanggung jawab yang telah membimbing penulis dalam terwujudnya paper ini ini ditulis untuk melengkapi tugas dan memenuhi komposisi nilai Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.







                                                                                                             Medan,     April 2018



                                                                                                                       Penulis






DAFTAR ISI
                                                                                                                 Halaman
KATA PENGANTAR..................................................................................    i
BAB I PENDAHULUAN
            1.1 Latar Belakang.............................................................................   1
            1.2 Rumusan Masalah........................................................................    3
            1.3 Tujuan..........................................................................................   4
BAB II ISI
            2.1 Gambaran Umum Pemanfaatan Ekonomi Sumber daya Hutan
                   Getah   Pinus (Pinus merkusii) ..................................................    5
            2.2 Bentuk Pemanfaatan Dari Pohon Pinus......................................       7
            2.3 Kegunaan dan Manfaat Yang Diperoleh Dari Pemanfaatan
                   Ekonomi Sumber Daya Hutan Pohon Pinus.........................            8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................    10
3.2 Saran......................................................................................        10
DAFTAR PUSTAKA





 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan,mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat. hasil hutan tidak kentara (intangible) seperti perlindungan tanah, pelestarian sumberdaya air dan beragam hasil wisata. Kajian ekonomi akan meliputi semberdaya sendiri-sendiri atau secara majemuk sehingga disebut sumberdaya hutan (Wirakusumah, 2003). Oval:    2
Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan bagi semua masyarakat (Sumitro, 2008).
Ilmu ekonomi adalah ilmu yangmempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Dengan demikian Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan danditingkatkan dalam jangka panjang. Pada dasarnya ekonomi summberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umummnya, karena sumberdaya hutan mengandung sifat-sifat khas sehingga dipandang dapat dipahami kalau dipelajari sebagai subjek pengetahuan tersendiri. Sifat-sifat khas SDH yang dikemukakan oleh para ahli Duerr, Leslie, Worrell adalah produk SDH senantiasa tumbuh dalam proses produksi yang berlainan dengan produksi dalam suatu pabrik yang meramu bahan mentah melalui suatu proses teknologi yang dapat diatur waktunya. Proses produksi SDH tergantung alam dan memerlukan waktu lebih lama. Kayu sebagai salah satu produk utama sumberdaya hutan yang penting diambil dari pohon-pohon yang beragam umurnya memerlukan persediaan yang cukup besar (luas dan volumenya), dengan sendirinya menuntut manajemen yang tidak sederhana. Akibat situasi di atas, massa kayu yang merupakan tegakan yang senantiasa tumbuh itu tidak mudah dibedakan apakah merupakan produksi akhir atau sebagai modal (Supratman, 2009).

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Gambaran Umum Pemanfaatan Ekonomi Sumberdaya Hutan Pohon Pinus (Pinus merkusii) ?
2.  Apa Saja Bentuk Pemanfaatan dari Pohon Pinus (Pinus merkusii)?
3. Apa Saja Kegunaan dan Manfaat Yang Diperoleh Dari Pohon Pinus
(Pinus merkusii)?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Gambaran Umum Pemanfaatan Ekonomi Sumberdaya Hutan Pohon Pinus (Pinus merkusii)
2. Mengetahui Bentuk Pemanfaatan Pohon Pinus (Pinus merkusii)
3. Mengetahui Kegunaan dan Manfaat Yang Diperoleh Dari Pohon Pinus
(Pinus merkusii)
BAB II
ISI
2.1. Gambaran Umum Pemanfaatan Ekonomi Sumberdaya Hutan Getah Pinus (Pinus merkusii)
            Pohon Pinus merkusii Jungh. et de Vriese  merupakan jenis pinus yang tumbuh asli di wilayah Indonesia dan pertama kali ditemukan dengan nama “Tusam” di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli botani dari Jerman Dr. F. R. Junghuhn. Selain termasuk jenis tanaman cepat tumbuh (fast growing species), jenis pinus ini merupakan jenis pinus yang tidak memerlukan syarat-syarat tempat tumbuh yang khusus sehingga mudah untuk dibudidayakan bahkan pada tempat yang kering. Tidak hanya kayunya saja yang dapat dimanfaatkan, HHBK jenis getah yang dihasilkan Pinusmerkusii ini juga dapat diolah menjadi gondorukem dan terpentin. Kedua hasil olahan destilasi getah pinus ini sangat bermanfaat sebagai bahan baku di berbagai industri.
Hasil gambar untuk GAMBAR BIJI PINUS Hasil gambar untuk GAMBAR DAUN PINUS
a.      Klasifikasi Ilmiah
Kingdom        :           Plantae
Divisi               :           Spermatophyta
Subdivisi         :           Gymnospermae
Ordo               :           Conifer
Famili             :           Pinaceae
Genus             :           Pinus
Spesies            :           Pinus merkusii

b.      Habitat

Pohon pinus memiliki akar tunggang dengan sistem perakaran yang cukup dalam dan kuat sehingga dapat tumbuh di tanah yang dalam/tebal dengan tekstur tanah ringan sampai sedang. Jenis pinus ini juga tidak memiliki syarat tinggi untuk jenis tanah tempat tumbuhnya karena pohon pinus dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah bahkan pada tanah dengan pH asam.
Pinus merkusii dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, namun tempat tumbuh terbaik bagi jenis pohon pinus ini berada pada ketinggian tempat antara 400-2000 mdpl. Pohon pinus yang ditanam pada ketinggian tempat kurang dari 400 mdpl akan menyebabkan pertumbuhannya tidak optimal karena suhu udara yang terlalu tinggi. Selain itu, pertumbuhan pohon pinus yang ditanam di ketinggian tempat lebih dari 2000 mdpl juga tidak akan optimal karena terhambatnya proses fotosintesis.
Tempat tumbuh yang baik bagi jenis pinus ini memiliki curah hujan 1200-3000 mm/tahun dan jumlah bulan kering 0-3 bulan. Di Pulau Jawa, Pinus merkusii dapat tumbuh baik pada tempat yang memiliki ketinggian di atas 400 mdpl dengan curah hujan 4000 mm/tahun (Perhutani 1993).

c.       Sebaran

Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis pinus yang tumbuh alami di Indonesia khususnya di Aceh, Tapanuli, dan Kerinci. Namun mulai tahun 1970-an Pinus merkusii mulai ditanam di Pulau Jawa untuk bahan baku industri kertas dan untuk keperluan reboisasi lahan-lahan kritis. Hingga saat ini, Pinus merkusiiberkembang pesat di seluruh wilayah Jawa.
Selain di Indonesia, pohon Pinus merkusii juga tumbuh di Vietnam, Kamboja, Thailand, Burma (Myanmar), India, dan Filipina. Secara geografis, Pinus merkusii tersebar antara 20 LS – 220 LU dan 950 30’ BB – 1200 31’ BT (Alrasjidet et all 1983 dalam Sallata 2013).
d.      Morfologi
Pohon Pinusmerkusii dapat tumbuh hingga tingginya mencapai 20-40 meter dengan diameter 70-90 cm, bahkan pada pohon pinus yang sudah tua diameter pohon dapat mencapai 100-145 cm. Batang bebas cabang pohon pinus sekitar 2-23 meter. Pada kondisi tegakan tertutup bentuk batang pohon pinus akan lurus, namun pada kondisi tegakan terbuka/jarang batangnya akan bengkok.  Batang pohon pinus tidak berbanir dan memiliki kulit batang relatif bertekstur kasar serta beralur dalam. Kulit batang pohon pinus ini berwarna coklat kelabu hingga coklat tua dan tidak mudah mengelupas.

2.2  Bentuk Pemanfaatan Pohon Pinus
Hampir semua bagian dari pohon Pinus merkusii dapat dimanfaatkan. Selain menghasilkan kayu, tanaman ini juga menghasilkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah. Namun selain kedua manfaat tersebut, Pinus merkusii dapat digunakan sebagai tanaman peneduh bahkan tanaman hias.
Berikut bentuk pemanfatan dari Pohon Pinus adalah sebagai berikut :

a.       Kayu Pinus

Kayu yang dihasilkan oleh pohon Pinus merkusii termasuk ke dalam jenis kayu ringan-sedang dengan berat jenis antara 0,46-0,7. Kayu pinus ini juga termasuk ke dalam kelas kuat II – III dan kelas awet IV. Kayu gubal pinus memiliki ketebalan 6-8 cm berwarna putih atau kekuning-kuningan, sedangkan pada bagian ateras berwarna coklat tua atau kemerah-merahan.
Kayu pinus memiliki tekstur kekerasan daya kembang surut dan retak sedang. Sifat pengerjaan mudah untuk dipapas, namun agak sulit digergaji karena getah yang terkandung didalamnya (Samingan 1980 dalam Burrahman 2006).
Kayu pinus dapat dipanen ketika pohon pinus berumur 15 tahun. Kayu pinus pada umumnya dimanfaatkan dalam pembuatan perabotan rumah, kayu lapis, korek api, kertas serat panjang, tiang listrik, bahan baku mainan anak-anak dan lain sebagainya.

b.      Getah Pinus

Selain kayunya yang dapat dimanfaatkan, pohon pinus juga menghasilkan getah yang dapat juga dimanfaatkan. Getah yang dihasilkan pohon pinus termasuk kedalam jenis oleoresin yang merupakan cairan asam resin.  Getah pohon pinus ini didapatkan jika batang pohon pinus dilukai (disadap) baik dengan menggunakan metode koakan maupun metode bor. Getah pohon pinus muali bisa dipanen mulai pada saat  umur pohon pinus mencapai 10 tahun.
Getah pohon pinus dapat diolah menjadi terpentin dan gondorukem melalui tahap penyulingan atau destilasi langsung maupun tidak langung. Gondorukem merupakan fraksi padat yang dihasilkan dari proses penyulingan, sedangkan terpentin merupakan fraksi cair.
Gondorukem dan terpentin yang dihasilkan dari getah Pinus merkusii memiliki karakteristik yang berbeda dengan gondorukem dan terpentin yang dihasilkan pinus jenis lainnya. Gondorukem dan terpentin yang dihasilkan ini memiliki berbagai manfaat. Gondorukem biasanya dimanfaatkan untuk bahan sizing produk kertas dan produk sabun, bahan campuran dalam cat, vernis, tinta, plastik, dan ban, sedangkan terpentin digunakan sebagai pengencer dan pelarut, serta sebagai bahan baku industri aromatic dan disinfectan.
Nilai ekonomis gondorukem dan terpentin yang dihasilkan getah pohon pinus ini tidak dapat ditemukan pada jenis tanaman hutan lainnya.

c.       Wisata Hutan Pinus

Hasil gambar untuk WISATA HUTAN PINUS
Wisata alam saat ini sedang diminati oleh masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat perkotaan. Wisata hutan pinus pun menjadi primadona di berbagai tempat di tanah air, sebut saja hutan pinus mangunan, hutan pinus jogja, dan yang paling terkenal adalah hutan pinus imogiri. Wisata hutan pinus ini menjadi momen untuk melepas kepenatan dan berfoto ria bersama orang-orang terdekat.
Perum Perhutani pun saat ini sedang mengoptimalkan bisnis ini karena salah satu hasil hutan bukan kayu yang dapat dimanfaatkan adalah jasa lingkungan. Tanpa mengurangi tegakan pohon pada hutan pinus, areal kerja Perum Perhutani dapat menjadi pundi-pundi uang demi berlangsungnya kehidupan perusahaan.

2.3 Kegunaan dan Manfaat Yang Diperoleh Dari Pohon Pinus
Tusam atau pinus adalah tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Pohon pinus banyak terdapat di hutan-hutan. Tanaman pinus ditanam untuk dimanfaatkan kayu dan getahnya serta konservasi lahan. Hampir semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, antara lain bagian batangnya dapat disadap untuk diambil getahnya. Getah pinus dapat diolah menjadi bahan pengencer cat sedangkan Hasil kayunya bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat panjang. Kertas yang sering kita gunakan umumnya terbuat umumnya terbuat dari kayu atau lebih tepatnya dari serat kayu dicampur dengan bahan-bahan kimia sebagai pengisi dan penguat kertas.
Kayu yang digunakan di Indonesia umumnya jenis pinus. Di mesin pembuat kertas, serat kayu ini dicampur dengan kayu yang berserat panjang contohnya pohon pinus. Selain untuk membuat kertas, masih banyak manfaat lainnya dari pohon pinus. Keindahan dan aroma pohon pinus sangat menyegarkan. Aroma pinus juga digunakan untuk terapi. Namun ternyata, pohon pinus masih menyimpan manfaat lain yaitu:
1. Kulit pohon pinus dan daun jarumnya mengandung banyak vitamin C. Pohon pinus juga sarat akan antioksidan. Setelah diolah menjadi obat, ekstrak pohon pinus dapat memperlancar peredaran darah, menghilangkan rasa nyeri di lutut, dan obat untuk meningkatkan daya ingat pada lanjut usia.
2.Mengurangi stres, Penelitian di Universitas Kyoto Jepang menunjukkan bahwa berjalan-jalan di hutan pinus selama 15 menit per hari mampu menurunkan stres. Jika kita sulit menemukan hutan pinus, maka dapat diganti dengan menggunakan minyak esensial pinus atau cemara. Aroma pinus juga dapat menenangkan emosi.

3. Kemampuan pinus tak hanya untuk menenangkan diri, tetapi juga bisa meredakan pilek, sinus, sesak napas,dan bronkitis. Caranya mudah, tambahkan tiga tetes minyak esensial pinus pada semangkuk air panas. Kemudian tutupi kepala dengan handuk, dan hirup aroma pinus melalui hidung dan mulut.

4. Minyak pinus juga bisa digunakan untuk meredakan nyeri otot. Caranya, tambahkan lima tetes minyak pinus dengan dua sendok minyak sayur. Lalu, pijatkan pada bagian otot tubuh yang nyeri.

5. Aroma Pewangi sebagai bahan baku pembuat parfum, zat esensial dari getah pinus ini diekstrak sehingga bisa menghasilkan terpinol yaitu alfa-terpinol merupakan salah satu dari 3 jenis alkohol isomer beraroma harum.

6. Usaha Kayu Pinus, Pesanan kayu kayu pinus kini mulai datang kepada masyarakat atau usaha di luar yang memiliki pohon pohon tersebut dengan harga yang kompetitif. Umumnya mereka menanam pada lahan yang curam dengan populasi sistematis yang diatur untuk ditebang dan dipertahankan, sekaligus sebagai upaya mencegah erosi. Saat ini dipasaran kayu pinus rata rata dibandrol seharga diatas Rp. 4 jutaan per log gelondongan umur 35 tahun ke atas. Namun meski harga mahal para peminat kayu pinus terus meninggi.

Secara garis besar, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi getah pinus antara lain:
1. Faktor dalam (internal) antara lain jenis pohon, diameter dan kesehatan pohon. 2. Faktor luar (lingkungan) antara lain jarak tanam, cuaca dan kesuburan tanah. 3. Faktor perlakuan (manusia ) antara lain, bentuk luka sadapan, arah (letak) luka sadapan dan upaya stimulasi.
Aliran getah pinus dipengaruhi oleh tiga kondisi penting yaitu :
1. Mekanisme pertahan fisiololigis yaitu terjadi peningkatan tekanan turgor yang sangat cepat sehingga jaringan epitel mengembang dan akan menyumbat saluran. Ini terjadi pada bagian yang jauh dari luka, dimana jaringan masih hidup dan diikuti oleh pengeluaran getah yang sangat aktif.
2. Pengemulsiaan getah didalam ari yang terdapat pada cytoplasma sel, pergerakan serta pengelurannya melalui membran sel epitel ke dalam saluran damar.
3. Total dehidrasi sel serta pembalseman membran oleh getah. 


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Hampir semua bagian dari pohon Pinus merkusii dapat dimanfaatkan. Selain menghasilkan kayu, tanaman ini juga menghasilkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah.
2.      Getah pohon pinus dapat diolah menjadi terpentin dan gondorukem melalui tahap penyulingan atau destilasi langsung maupun tidak langung. Gondorukem merupakan fraksi padat yang dihasilkan dari proses penyulingan, sedangkan terpentin merupakan fraksi cair.
3.      Pohon pinus dapat dimanfaatkan mulai dari kayunya hingga getahnya
4.      Produk saat ini yang telah digunakan menggunakan bahan campuran dari minyak pinus seperti lipstik, dettol, kapur barus, poembersih lantai, cat vernis bahkan cat dinding.
5.      Pinus merkusii ini merupakan tanaman yang termasuk tanaman fast growing sehingga jenis pinus yang tidak memerlukan syarat-syarat tempat tumbuh yang khusus sehingga mudah untuk dibudidayakan bahkan pada tempat yang kering

Saran
         Sebaiknya kita harus lebih menjaga kelestarian akan pohon pinus, karena pinus memiliki banyak sekali manfaat yang dapat menambah nilai ekonomis suatu barang .








 
DAFTAR PUSTAKA
Rosyidi, S. 2006. Pengantar Teori Ekonomi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sumitro, 2008. Ekonomi Kehutanan. Yayasan Pembina, Fakultas Kehutanan
UGM, Yogyakarta.

Supratman, W. 2009. Mendambakan Kelestarian Sumberdaya Hutan bagi
Sebesar- besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press.  
Jakarta.

Wirakusumah, S. 2003. Mendambakan Kelestarian Sumberdaya Hutan bagi
Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar