Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan,
April 2018
PEMANFAATAN EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
POHON
PINUS (Pinus merkusii)
Dosen
Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si
Oleh
:
Luwicha Dian Mintari
161201022
Hut 4A
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Adapun makalah ini berjudul “Pemanfaatan
Ekonomi Sumber Daya Hutan Pohon Pinus”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr.
Agus Purwoko., S.Hut., M.Si selaku
dosen penanggung jawab yang telah membimbing penulis dalam terwujudnya paper
ini ini ditulis untuk melengkapi
tugas dan memenuhi komposisi nilai Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan,
Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam
penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh
sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah
ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, April 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..................................................................................
i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang............................................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah........................................................................ 3
1.3
Tujuan.......................................................................................... 4
BAB II
ISI
2.1 Gambaran Umum Pemanfaatan Ekonomi Sumber daya Hutan
Getah Pinus (Pinus
merkusii) .................................................. 5
2.2
Bentuk Pemanfaatan Dari Pohon Pinus...................................... 7
2.3
Kegunaan dan Manfaat Yang Diperoleh Dari Pemanfaatan
Ekonomi
Sumber Daya Hutan Pohon Pinus......................... 8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................. 10
3.2 Saran...................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Hutan
adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan
persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan
pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang
sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan,
vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai
sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan
kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan
hutan,mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari
kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur
sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti
kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa
lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat. hasil hutan tidak kentara (intangible) seperti
perlindungan tanah, pelestarian sumberdaya air dan beragam hasil wisata. Kajian
ekonomi akan meliputi semberdaya sendiri-sendiri atau secara majemuk sehingga
disebut sumberdaya hutan (Wirakusumah, 2003). 

Ekonomi
SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan
produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam
kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja,
pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian
ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan
jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha
(bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab
bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat
dalam pengertian bahwa sumberdaya hutan telah memberikan kontribusi bagi
tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan
jasa perlindungan lingkungan
bagi semua masyarakat (Sumitro, 2008).
Ilmu ekonomi adalah ilmu yangmempelajari
tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai alternatif.
Dengan demikian Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah
laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat
dipertahankan danditingkatkan dalam jangka panjang. Pada dasarnya ekonomi
summberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umummnya,
karena sumberdaya hutan mengandung sifat-sifat khas sehingga dipandang dapat
dipahami kalau dipelajari sebagai subjek pengetahuan tersendiri. Sifat-sifat
khas SDH yang dikemukakan oleh para ahli Duerr, Leslie, Worrell adalah produk
SDH senantiasa tumbuh dalam proses produksi yang berlainan dengan produksi
dalam suatu pabrik yang meramu bahan mentah melalui suatu proses teknologi yang
dapat diatur waktunya. Proses produksi SDH tergantung alam dan memerlukan waktu
lebih lama. Kayu sebagai salah satu produk utama sumberdaya hutan yang penting
diambil dari pohon-pohon yang beragam umurnya memerlukan persediaan yang cukup
besar (luas dan volumenya), dengan sendirinya menuntut manajemen yang tidak
sederhana. Akibat situasi di atas, massa kayu yang merupakan tegakan yang
senantiasa tumbuh itu tidak mudah dibedakan apakah merupakan produksi akhir
atau sebagai modal (Supratman, 2009).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Gambaran Umum Pemanfaatan
Ekonomi Sumberdaya Hutan Pohon Pinus (Pinus
merkusii) ?
2.
Apa Saja Bentuk Pemanfaatan dari Pohon Pinus (Pinus merkusii)?
3. Apa Saja Kegunaan dan Manfaat Yang
Diperoleh Dari Pohon Pinus
(Pinus merkusii)?
(Pinus merkusii)?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui Gambaran Umum
Pemanfaatan Ekonomi Sumberdaya Hutan Pohon Pinus (Pinus merkusii)
2. Mengetahui Bentuk Pemanfaatan Pohon
Pinus (Pinus merkusii)
3. Mengetahui Kegunaan dan Manfaat
Yang Diperoleh Dari Pohon Pinus
(Pinus merkusii)
(Pinus merkusii)
ISI
2.1. Gambaran Umum Pemanfaatan Ekonomi
Sumberdaya Hutan Getah Pinus (Pinus
merkusii)
Pohon Pinus merkusii Jungh. et de Vriese merupakan
jenis pinus yang tumbuh asli di wilayah Indonesia dan pertama kali ditemukan
dengan nama “Tusam” di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli
botani dari Jerman Dr. F. R. Junghuhn. Selain termasuk jenis tanaman cepat
tumbuh (fast growing species), jenis pinus ini merupakan
jenis pinus yang tidak memerlukan syarat-syarat tempat tumbuh yang khusus
sehingga mudah untuk dibudidayakan bahkan pada tempat yang kering. Tidak hanya kayunya saja yang dapat dimanfaatkan, HHBK jenis getah yang dihasilkan Pinusmerkusii ini juga dapat diolah menjadi
gondorukem dan terpentin. Kedua hasil olahan destilasi getah
pinus ini sangat bermanfaat sebagai bahan baku di berbagai industri.

a. Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Gymnospermae
Ordo : Conifer
Famili : Pinaceae
Genus : Pinus
Spesies : Pinus
merkusii
b. Habitat
Pohon
pinus memiliki akar tunggang dengan sistem perakaran yang cukup dalam dan kuat
sehingga dapat tumbuh di tanah yang dalam/tebal dengan tekstur tanah ringan
sampai sedang. Jenis pinus ini juga tidak memiliki syarat tinggi untuk jenis
tanah tempat tumbuhnya karena pohon pinus dapat tumbuh pada berbagai jenis
tanah bahkan pada tanah dengan pH asam.
Pinus merkusii dapat
tumbuh di berbagai ketinggian tempat, namun tempat tumbuh terbaik bagi jenis
pohon pinus ini berada pada ketinggian tempat antara 400-2000 mdpl. Pohon pinus
yang ditanam pada ketinggian tempat kurang dari 400 mdpl akan menyebabkan
pertumbuhannya tidak optimal karena suhu udara yang terlalu tinggi. Selain itu,
pertumbuhan pohon pinus yang ditanam di ketinggian tempat lebih dari 2000 mdpl
juga tidak akan optimal karena terhambatnya proses fotosintesis.
Tempat tumbuh yang baik
bagi jenis pinus ini memiliki curah hujan 1200-3000 mm/tahun dan jumlah bulan
kering 0-3 bulan. Di Pulau Jawa, Pinus merkusii dapat
tumbuh baik pada tempat yang memiliki ketinggian di atas 400 mdpl dengan curah
hujan 4000 mm/tahun (Perhutani 1993).
c. Sebaran
Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis pinus
yang tumbuh alami di Indonesia khususnya di Aceh, Tapanuli, dan Kerinci. Namun
mulai tahun 1970-an Pinus merkusii mulai
ditanam di Pulau Jawa untuk bahan baku industri kertas dan untuk keperluan
reboisasi lahan-lahan kritis. Hingga saat ini, Pinus
merkusiiberkembang pesat di seluruh wilayah Jawa.
Selain di Indonesia,
pohon Pinus
merkusii juga tumbuh
di Vietnam, Kamboja, Thailand, Burma (Myanmar), India, dan Filipina. Secara
geografis, Pinus merkusii tersebar
antara 20 LS –
220 LU
dan 950 30’
BB – 1200 31’
BT (Alrasjidet et all 1983
dalam Sallata 2013).
d. Morfologi
Pohon Pinusmerkusii dapat
tumbuh hingga tingginya mencapai 20-40 meter dengan diameter 70-90 cm, bahkan
pada pohon pinus yang sudah tua diameter pohon dapat mencapai 100-145 cm.
Batang bebas cabang pohon pinus sekitar 2-23 meter. Pada kondisi tegakan
tertutup bentuk batang pohon pinus akan lurus, namun pada kondisi tegakan
terbuka/jarang batangnya akan bengkok. Batang pohon pinus tidak berbanir
dan memiliki kulit batang relatif bertekstur kasar serta beralur dalam. Kulit
batang pohon pinus ini berwarna coklat kelabu hingga coklat tua dan tidak mudah
mengelupas.
2.2 Bentuk
Pemanfaatan Pohon Pinus
Hampir semua bagian
dari pohon Pinus merkusii dapat dimanfaatkan. Selain menghasilkan
kayu, tanaman ini juga menghasilkan Hasil Hutan Bukan Kayu
(HHBK) berupa getah.
Namun selain kedua manfaat tersebut, Pinus merkusii dapat digunakan sebagai
tanaman peneduh bahkan tanaman hias.
Berikut bentuk
pemanfatan dari Pohon Pinus adalah sebagai berikut :
a. Kayu Pinus
Kayu yang dihasilkan
oleh pohon Pinus merkusii termasuk
ke dalam jenis kayu ringan-sedang dengan berat jenis antara 0,46-0,7. Kayu
pinus ini juga termasuk ke dalam kelas kuat II – III dan kelas awet IV. Kayu
gubal pinus memiliki ketebalan 6-8 cm berwarna putih atau kekuning-kuningan,
sedangkan pada bagian ateras berwarna coklat tua atau kemerah-merahan.
Kayu pinus memiliki
tekstur kekerasan daya kembang surut dan retak sedang. Sifat pengerjaan mudah
untuk dipapas, namun agak sulit digergaji karena getah yang terkandung
didalamnya (Samingan 1980 dalam Burrahman 2006).
Kayu pinus dapat
dipanen ketika pohon pinus berumur 15 tahun. Kayu pinus pada umumnya
dimanfaatkan dalam pembuatan perabotan rumah, kayu lapis, korek api, kertas
serat panjang, tiang listrik, bahan baku mainan anak-anak dan lain sebagainya.
b. Getah Pinus
Selain kayunya yang
dapat dimanfaatkan, pohon pinus juga menghasilkan getah yang dapat juga
dimanfaatkan. Getah yang dihasilkan pohon pinus termasuk kedalam jenis oleoresin yang merupakan cairan asam
resin. Getah pohon pinus ini didapatkan jika batang pohon pinus dilukai (disadap)
baik dengan menggunakan metode koakan maupun metode bor. Getah pohon pinus
muali bisa dipanen mulai pada saat umur pohon pinus mencapai 10 tahun.
Getah pohon pinus dapat
diolah menjadi terpentin dan gondorukem melalui tahap penyulingan atau destilasi
langsung maupun tidak langung. Gondorukem merupakan fraksi padat yang
dihasilkan dari proses penyulingan, sedangkan terpentin merupakan fraksi cair.
Gondorukem dan
terpentin yang dihasilkan dari getah Pinus merkusii memiliki karakteristik yang
berbeda dengan gondorukem dan terpentin yang dihasilkan pinus jenis lainnya. Gondorukem dan terpentin yang
dihasilkan ini memiliki berbagai manfaat. Gondorukem biasanya dimanfaatkan
untuk bahan sizing produk kertas dan produk sabun, bahan
campuran dalam cat, vernis, tinta, plastik, dan ban, sedangkan terpentin
digunakan sebagai pengencer dan pelarut, serta sebagai bahan baku industri aromatic dan disinfectan.
Nilai ekonomis
gondorukem dan terpentin yang dihasilkan getah pohon pinus ini tidak dapat
ditemukan pada jenis tanaman hutan lainnya.
c. Wisata Hutan Pinus
Wisata alam saat ini
sedang diminati oleh masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat perkotaan.
Wisata hutan pinus pun menjadi primadona di berbagai tempat di tanah air, sebut
saja hutan pinus mangunan, hutan pinus jogja, dan yang paling terkenal adalah hutan pinus imogiri. Wisata hutan pinus ini menjadi momen
untuk melepas kepenatan dan berfoto ria bersama orang-orang terdekat.
Perum Perhutani pun
saat ini sedang mengoptimalkan bisnis ini karena salah satu hasil hutan bukan
kayu yang dapat dimanfaatkan adalah jasa lingkungan. Tanpa mengurangi tegakan
pohon pada hutan pinus, areal kerja Perum Perhutani dapat menjadi pundi-pundi
uang demi berlangsungnya kehidupan perusahaan.
2.3 Kegunaan dan Manfaat Yang Diperoleh Dari Pohon Pinus
Tusam atau
pinus adalah tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Pohon pinus
banyak terdapat di hutan-hutan. Tanaman pinus ditanam untuk dimanfaatkan kayu
dan getahnya serta konservasi lahan. Hampir semua bagian pohonnya dapat
dimanfaatkan, antara lain bagian batangnya dapat disadap untuk diambil
getahnya. Getah pinus dapat diolah menjadi bahan pengencer cat sedangkan
Hasil kayunya bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat
panjang. Kertas yang sering kita gunakan umumnya terbuat umumnya terbuat dari
kayu atau lebih tepatnya dari serat kayu dicampur dengan bahan-bahan kimia
sebagai pengisi dan penguat kertas.
Kayu yang
digunakan di Indonesia umumnya jenis pinus. Di mesin pembuat kertas, serat kayu
ini dicampur dengan kayu yang berserat panjang contohnya pohon pinus. Selain
untuk membuat kertas, masih banyak manfaat lainnya dari pohon pinus. Keindahan
dan aroma pohon pinus sangat menyegarkan. Aroma pinus juga digunakan untuk
terapi. Namun ternyata, pohon pinus masih menyimpan manfaat lain yaitu:
1. Kulit pohon pinus dan daun jarumnya mengandung
banyak vitamin C. Pohon pinus juga sarat akan antioksidan. Setelah diolah menjadi obat,
ekstrak pohon pinus dapat memperlancar peredaran darah, menghilangkan rasa
nyeri di lutut, dan obat untuk meningkatkan daya ingat pada lanjut usia.
2.Mengurangi
stres, Penelitian di
Universitas Kyoto Jepang menunjukkan bahwa berjalan-jalan di hutan pinus selama
15 menit per hari mampu menurunkan stres. Jika kita sulit menemukan hutan
pinus, maka dapat diganti dengan menggunakan minyak esensial pinus atau cemara.
Aroma pinus juga dapat menenangkan emosi.
3. Kemampuan pinus tak hanya untuk menenangkan diri, tetapi juga bisa meredakan pilek, sinus, sesak napas,dan bronkitis. Caranya mudah, tambahkan tiga tetes minyak esensial pinus pada semangkuk air panas. Kemudian tutupi kepala dengan handuk, dan hirup aroma pinus melalui hidung dan mulut.
4. Minyak pinus juga bisa digunakan untuk meredakan nyeri otot. Caranya, tambahkan lima tetes minyak pinus dengan dua sendok minyak sayur. Lalu, pijatkan pada bagian otot tubuh yang nyeri.
5. Aroma Pewangi sebagai bahan baku pembuat parfum, zat esensial dari getah pinus ini diekstrak sehingga bisa menghasilkan terpinol yaitu alfa-terpinol merupakan salah satu dari 3 jenis alkohol isomer beraroma harum.
6. Usaha Kayu Pinus, Pesanan kayu kayu pinus kini mulai datang kepada masyarakat atau usaha di luar yang memiliki pohon pohon tersebut dengan harga yang kompetitif. Umumnya mereka menanam pada lahan yang curam dengan populasi sistematis yang diatur untuk ditebang dan dipertahankan, sekaligus sebagai upaya mencegah erosi. Saat ini dipasaran kayu pinus rata rata dibandrol seharga diatas Rp. 4 jutaan per log gelondongan umur 35 tahun ke atas. Namun meski harga mahal para peminat kayu pinus terus meninggi.
Secara garis besar, faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap produksi getah pinus antara lain:
1. Faktor dalam (internal) antara
lain jenis pohon, diameter dan kesehatan pohon. 2. Faktor luar
(lingkungan) antara lain jarak tanam, cuaca dan kesuburan tanah. 3. Faktor
perlakuan (manusia ) antara lain, bentuk luka sadapan, arah (letak) luka
sadapan dan upaya stimulasi.
Aliran getah pinus dipengaruhi oleh tiga
kondisi penting yaitu :
1. Mekanisme pertahan fisiololigis
yaitu terjadi peningkatan tekanan turgor yang sangat cepat sehingga jaringan
epitel mengembang dan akan menyumbat saluran. Ini terjadi pada bagian yang jauh
dari luka, dimana jaringan masih hidup dan diikuti oleh pengeluaran getah yang
sangat aktif.
2. Pengemulsiaan getah didalam ari yang
terdapat pada cytoplasma sel, pergerakan serta pengelurannya melalui membran
sel epitel ke dalam saluran damar.
3. Total dehidrasi sel
serta pembalseman membran oleh getah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Hampir semua bagian
dari pohon Pinus merkusii dapat dimanfaatkan. Selain menghasilkan
kayu, tanaman ini juga menghasilkan Hasil Hutan Bukan Kayu
(HHBK) berupa
getah.
2. Getah pohon pinus dapat diolah menjadi terpentin dan gondorukem melalui
tahap penyulingan atau destilasi langsung maupun tidak langung. Gondorukem
merupakan fraksi padat yang dihasilkan dari proses penyulingan, sedangkan
terpentin merupakan fraksi cair.
3.
Pohon pinus dapat
dimanfaatkan mulai dari kayunya hingga getahnya
4.
Produk saat ini yang
telah digunakan menggunakan bahan campuran dari minyak pinus seperti lipstik,
dettol, kapur barus, poembersih lantai, cat vernis bahkan cat dinding.
5.
Pinus merkusii ini merupakan tanaman yang termasuk tanaman fast
growing sehingga jenis pinus yang tidak memerlukan
syarat-syarat tempat tumbuh yang khusus sehingga mudah untuk dibudidayakan
bahkan pada tempat yang kering
Saran
Sebaiknya kita harus lebih menjaga kelestarian akan pohon pinus, karena
pinus memiliki banyak sekali manfaat yang dapat menambah nilai ekonomis suatu
barang .
![]() |
Rosyidi, S. 2006. Pengantar Teori Ekonomi. PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sumitro, 2008. Ekonomi Kehutanan. Yayasan
Pembina, Fakultas Kehutanan
UGM, Yogyakarta.
UGM, Yogyakarta.
Supratman, W. 2009. Mendambakan Kelestarian
Sumberdaya Hutan bagi
Sebesar- besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Sebesar- besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Wirakusumah, S. 2003. Mendambakan Kelestarian
Sumberdaya Hutan bagi
Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar